November 22, 2008

Baju ku sayang, baju ku malang

Sejak bergabung dengan Dojo ini, aku baru membeli satu buah seragam aikido.
Dengan status awal sebagai karyawan magang di sebuah perusahaan, baju itu pun baru aku beli setelah 3 bulan bergabung. Selama dalam masa penantian aku selalu menggunakan baju training.

Satu tahun telah berlalu, baju aikido ini selalu mengiringi langkah ku dalam setiap latihan, baik latihan rutin di dojo sendiri, latihan bersama di Surveyor Indonesia, bahkan baju ini pula yang menjadi saksi Seminar Kubota Shihan dan Seminar Takeda Shihan.

Memang rasanya nggak tega ngeliat baju ini dipake terus-terusan tanpa ganti. Apalagi ketika Seminar Takeda Shihan kemarin. 3 hari berturut-turut......
Ibu sih udah bilang supaya aku beli baju lagi, tapi dalam hati aku bertekad akan beli baju lagi kalau bisa naik ke Kyu 5. Ini adalah caraku dalam member semangat terhadap diri sendiri untuk tetap menjaga latihan secara konsisten.

Kejadiannya ketika hari Kamis kemarin. Setelah istirahat di hari Selasanya, aku dan rekan-rekan kembali latihan di hari Kamis. Awalnya latihan memang seperti biasa. Kelompok besar ini dibagi menjadi 2. Yang baru, dan yang akan mengikuti ujian (jika tidak ada halangan, insya allah desember ini ada ujian kenaikan tingkat). Persisnya ketika teknik shomen uchi dai ikkyo. Ketika hara turun, aku merasa kok sepertinya ada suara "kreekk" ya ?
dan ketika teknik ini selesai, ..... ya ampun, celana ini sobek....
untungnya baju cukup panjang sehingga bisa menutupi bagian yang sobek. akhirnya latihan tetap diteruskan, tapi gerakannya pelan-pelan, hehehe ...

setelah kejadian ini, aku berpikir rasanya harus segera beli baju lagi deh. nggak tega rasanya sama baju yang sekarang ini ... :)

November 19, 2008

At Last .... Thursday

Jadwal latihan rutin di Dojo adalah hari Selasa dan Kamis. Seminar Yoshinobu Takeda Shihan kemarin berakhir di hari Senin malam. Pyuh.... 2 jam yang sangat luar biasa dalam hidup ini.

Hari Selasa pagi terima email dari Senpai Rendi, kalo hari Selasa ini latihan di liburkan sementara di istirahatkan karena untuk bongkar muat matras yang digunakan untuk seminar kemarin dan juga untuk memberi kesempatan pada kaki ini supaya menyatu kembali dengan tubuh, maksudnya ???? hahahahaha.... Jadi di akhir seminar kemarin, kita ada jiyuwaza dan aku sendiri sempet terima kurang lebih 20 ukemi nonstop dari Berin Sensei. Rasanya mantaaap sekali. 20 ukemi ini cukup membuat ku sedikit berkunang-kunang dan rasanya kaki mau copot, hihihi.....

Besok sudah Kamis, dan jika tidak ada halangan, kita kembali mulai latihan aikido nya. Ada banyak sekali hal yang saya pelajari dari seminar kemarin. Dan saya yakin Hakim Sensei pun pastinya tambah luar biasa sensasi ki nya.

Okeh, dengan demikian, sampai jumpa hari Kamis besok ....

Onegaishimasu .... :)

November 17, 2008

Seminar Takeda Shihan

Akhirnya 3 hari yang cukup melelahkan berakhir.
Takeda Yoshinobu Shihan, seorang pemegang sabuk hitam Dan 8 datang ke Indonesia bersama 5 orang uchi deshi. Oka Sensei (Japan), Kaoru Sensei (Japan), Daiyu Sensei (Japan), Berin Sensei (Australia), dan Renne Sensei (Kanada). Bertindak sebagai tuan rumah adalah Dojo Indosat.

Pada hari Sabtu dan Minggu (15 dan 16 November) seminar dibuka untuk umum. Sedangkan hari Senin ini (17 November) khusus untuk rekan-rekan dari Dojo Aikikenkyukai. Alhamdulillah kami-kami yang "white belt" diizinkan untuk ikut berlatih :)

Pertama kali saya melihat begitu banyak aikidoka yang hadir baik dari dalam negeri atau pun luar negeri. Maklum ini adalah seminar internasional. Dan di Jepang sendiri, nama Yoshinobu Takeda bisa disebut sebagai "The Living Legend". Awalnya saya tidak terlalu mengerti, sampai melihat sendiri demonstrasi dari beliau. Saya hanya bisa tergeleng-geleng. Wow.... what a rare condition. Hakim Sensei, guru aikido saya, adalah salah seorang murid Takeda Shihan ketika beliau berguru ke Jepang, sehingga hari ini pun kita semua bisa bertemu dengan Takeda berkat perantaraan beliau juga. Domo arigatou Hakim Sensei.....

Dari kelima uchi deshi takeda shihan, saya hanya pernah berlatih langsung dengan empat orang Sensei yakni Berin Sensei, Oka Sensei, Daiyu Sensei, dan Renne Sensei. Dari ke empat orang tersebut saya merasakan bahwa teknik aikido mereka bukan lagi teknik yang menekankan pada gerakan yang dilakukan bertahap demi tahap (seperti yang masih saya lakukan saat ini), tetapi gerakan yang mengalir. Ketika menjadi uke (penerima teknik) dari para sensei tersebut saya merasa seperti tersedot dan menjadi satu dengan aliran energi beliau-beliau. Ada sesuatu yang sulit sekali dijelaskan, tetapi hanya bisa dirasakan. Yang Dan yang paling membuat saya senang sekali adalah bahwa ketika sesi bebas jiyu waza, saya sempat menerima teknik dari takeda shihan langsung. Wah rasanya luar biasa.....

Secara keseluruhan, pada seminar kali ini saya banyak sekali mendapatkan pelajaran tentang aikido. alhamdulillah mendapatkan ilmu untuk mempelajari aikido lebih dalam lagi. terutama tentang rileks dan tenang, teknik yang mengalir, satu kesatuan antara nage dan uke, dan banyak lagi ....

Secara sekilas, mungkin sulit untuk dipercaya orang tua yang perawakannya mirip mbah saya ternyata seorang master aikido. tapi itu kenyataannya. di akhir sesi hari Senin ini, ke empat uchi deshi takeda shihan (oka sensei tidak hadir hari ini), mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan aikidoka di Indonesia, dan pertemuan ini tidak akan kami lupakan, terutama bagi saya sendiri.

Domo arigatou shihan, jika memang diberikan kesempatan, saya akan datang ke negeri sakura untuk berlatih langsung bersama shihan... amiiinnn

November 16, 2008

Sejarah Aikido

artikel ini saya ambil dari link http://www.aiki-kenkyukai.com/
Semoga penjelasan yang ada dapat membantu kita untuk memahami mengenai aikido, siapa pendirinya, berasal dari mana, dan bagaimana aikido bisa masuk ke Indonesia.

Aikido lahir di Jepang sebelum perang dunia ke dua. Akar seni bela diri ini adalah seni bela diri Daito Ryu Aiki Jujutsu yang sudah ada di Jepang sejak beberapa abad yang lalu. Daito Ryu Aiki Jujutsu merupakan seni perang dan seni bela diri yang hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu dari kalangan istana kerajaan, terutama samurai pilihan di istana dan tidak sembarang orang dapat mempelajarinya hingga satu saat seni bela diri ini mulai diperkenalkan kepada publik oleh Sokaku Takeda. Salah satu murid dari Sokaku Takeda adalah Morihei Ueshiba yang dikemudian hari mengembangkan Aikido.

O' SenseiSejalan dengan perjalanan hidup Morihei Ueshiba, beliau mengembangkan seni bela diri Daito Ryu Aiki Jujutsu in menjadi sebuah bela diri yang tujuannya lebih kepada melindungi dengan kasih sayang. Aikido diciptakan karena kemuakan dari Morihei Ueshiba akan perang dan banyaknya korban yang beliau lihat dan alami semasa perang. Sehingga sewaktu pulang kembali ke Jepang setelah ditugaskan berperang, beliau berpikir untuk menciptakan suatu seni bela diri yang lebih melindungi dari pada merusak dan menghancurkan.

Nama Aikido sendiri memiliki arti yang mencerminkan harapan dari pendirinya. Aikido terdiri dari 3 buah karakter kanji Jepang yaitu “Ai” yang berarti “Keharmonisan gerakan tubuh dengan jiwa”, “Ki” yang berarti “Energi kehidupan (Chi)” dan “Do” yang berarti “Jalan”. Jadi Aikido berarti “Jalan untuk mengharmoniskan gerakan tubuh dan jiwa dengan energi kehidupan”. Dengan kata lain Aikido merupakan suatu jalan untuk mengharmoniskan semua yang ada di kehidupan kita.

Dengan keharmonisan diharapkan dapat menciptakan suatu kedamaian, namun jika harus menggunakannya Aikido untuk membela diri bukan berarti harus dengan menghancurkan sesuatu untuk mencapai tujuan.

Bersandar kepada arti nama Aikido maka Aikido dapat dipelajari oleh siapapun tanpa mengenal batas umur, keadaan fisik yang kuat atau lemah, lelaki maupun perempuan. Ini disebabkan Aikido tidak berpaku hanya mengandalkan tehnik dan kekuatan fisik semata tapi lebih luas dari itu.

Kekuatan Aikido terletak pada filosofinya.

FILOSOFI AIKIDO

Filosofi Aikido sarat akan filosofi kehidupan. Jika seseorang mulai mempelajarinya, maka ia akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dan dapat digunakan di dalam kehidupan sehari-hari dan bukan sekedar tehnik belaka.

Aikido mengajarkan bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana seseorang harus menghargai kehidupan dan lain-lain. Aikido bukanlah agama tetapi pendiri Aikido pernah berkata bahwa dengan mempelajari Aikido, maka orang dapat lebih mudah mengerti dan mempelajari apa yang ia temukan dalam agama yang dipelajari.

Aikido mengajarkan seseorang agar berjiwa seperti seorang samurai yang menjunjung tinggi kebenaran. Jiwa ini terefleksikan pada hakama (celana khas Jepang) yang dikenakan oleh praktisi Aikido yang telah tinggi tingkatannya.

Pada hakama terdapat 7 buah ajaran samurai yang mewakili 7 pilar “Budo” (Jalan Ksatria). 7 ajaran ini meliputi “1. Kebenaran dan Kebaikan, 2. Sikap Hormat dan Kehormatan, 3. Ketulusan dan Kejujuran, 4. Loyalitas, 5. Kesopanan dan Sopan Santun, 6. Pengetahuan dan Hikmah Kebijaksanaan, 7. Keberanian”. Jadi praktisi aikido yang telah mengenakan hakama diharapkan mengerti, memahami dan menjalankan dari apa yang dikenakan.

Lebih mendalam lagi, Aikido mengajarkan tentang kehidupan dan bagaimana agar kita dapat menjalaninya secara harmonis. Pendiri Aikido pernah berkata “ Masa katsu Agatsu, Katsu Hayabi” yang berarti “ Kemenangan sejati adalah kemenangan atas diri sendiri; kemenangan sejati adalah kemenangan tanpa pergulatan sedikitpun”.

Aikido menganut filosofi “muteki” atau “tidak ada musuh”. Maksudnya tidak ada seseorang atau sesuatu pun didunia ini yang harus kita kalahkan kecuali diri sendiri, jika dalam hidup kita mampu mengalahkan ke-aku-an diri sendiri, maka sebenarnya tidak ada musuh di kehidupan ini. Lawan terberat adalah diri kita sendiri. Agar dapat mencapai hal ini, kita membutuhkan “Makoto” atau “Hati yang bersih”. Dengan hati yang bersih, maka kita dapat melihat/ menilai apa yang ada di hadapan kita dengan lebih jelas, ibarat air danau yang jernih dan tenang, maka permukaannya akan memantulkan refleksi seperti apa adanya.

Ini baru beberapa hal yang diajarkan didalam Aikido. Ajaran ini sedikit banyak dapat menjelaskan mengapa Aikido tidak ada kompetisi dan bukan bela diri sport. Karena Aikido dimaksudkan bukan unutk mengajarkan menang atau kalah dan sikap sportif tetapi lebih kepada pelajaran untuk pembentukan karakter tiap praktisinya baik dari sisi hati, akhlak, moral, mental dan terakhir, fisik.

SEJARAH AIKIDO DI INDONESIA

Aikido masuk ke Indonesia pada akhir tahun 1969. Aikido dibawa oleh Bapak Jozef Poetiray yang merupakan Ketua Dewan Guru dari Yayasan Indonesia Aikikai yang didirikan tanggal 28 Oktober 1983. Yayasan Indonesia Aikikai terdaftar sebagai anggota yang mewakili Indonesia di International Aikido Federation (IAF), Asian Aikido Federation (AAF) dan tentunya di Aikido Headquarter di Jepang.

Bapak Jozef Poetiray merupakan salah satu mahasiswa yang dikirim oleh pemerintah Indonesia ke Jepang dalam rangka beasiswa rampasan perang Jepang bagi Indonesia di tahun 1960-an. Beliau selama di Jepang mencari sesuatu yang berguna yang dapat dibawa ke Indonesia sesuai dengan amanat dari Presiden Soekarno saat itu, agar para mahasiswa mempelajari dan membawa sesuatu yang positif dari Jepang yang bukan hanya ilmu pengetahuan tapi segala sesuatu yang positif yang nantinya dapat diajarkan kepada generasi muda Indonesia mendatang.

Di sisi lain Bapak Jozef Poetiray ingin belajar seni bela diri yang cocok dengan dirinya dan dapat menyentuh hati, perasaan, jiwanya serta dapat mengoreksi tingkah laku beliau di kehidupan sehari-hari. Sampai pada suatu hari beliau melihat peragaan seni bela diri Aikido di TV lokal. Namun karena pada saat itu di Hiroshima belum ada, maka beliau baru mempelajarinya ketika pindah kuliah ke Tokyo. Beliau juga menjadi salah satu orang yang mendirikan Indonesian Students Aikido Club di Wisma Indonesia di Jepang. Banyak hal yang beliau dapat dari Aikido.

Melalui latihan yang tekun, ternyata membawa perubahan yang baik kepada tingkah laku beliau yang sebelumnya seorang yang bertemperamen tinggi dan gampang meledak. Perubahan tersebut didapat tidak hanya melalui latihan fisik namun filosofi yang dipelajari beliau juga bermanfaat di kehidupan sehari-hari seperti di rumah, kantor dan lain-lain.

Maka beliau bertekad mengembangkan Aikido di Indonesia sebagai misinya, khususnya untuk para generasi penerus bangsa Indonesia. Seiring berjalannya waktu, Aikido di bawah Yayasan Indonesia Aikikai berkembang di Indonesia secara perlahan tapi pasti.

Sampai saat ini sudah sekitar lebih dari 1000 praktisi Aikido yang berlatih tersebar di beberapa tempat di Indonesia, khususnya Jakarta. Dojo yang berada dibawah naungan Yayasan Indonesia Aikikai ada sekitar 30 buah dojo yang tersebar di Indonesia dengan 20 diantaranya berlokasi di Jakarta.

Sampai saat ini, Yayasan Indonesia Aikikai sudah menyelenggarakan berbagai kegiatan baik bersifat nasional maupun internasional dengan mengundang negara lain. Seperti ujian kenaikan sabuk hitam tahunan, dimana pengujinya masih dikirim dari Aikido Headquarter Jepang, mengundang beberapa Sensei dari Jepang untuk mengadakan seminar Aikido di Indonesia dan turut serta pada berbagai eksibisi dan seminar bela diri baik didalam maupun luar negeri. Kegiatan terakhir Yaysan Indonesia Aikikai adlaah mengikuti seminar internasional IAF di Jepang dan Bapak Jozef Poetiray menjadi pengajar Aikido untuk latihan mental di program ASEAN yang diadakan Yayasan Bina Pembangunan di Padepokan Bumi Mandiri, Cisaat. Yayasan Indonesia Aikikao juga mendapat dukungan kedutaan besar Jepang di Jakarta. Diharapkan kedepannya Aikido dapat lebih berkembang lagi dan ikut membangun akhlak dan moral bangsa Indonesia melalui filosofinya.

Aikido Jurnal

Juli 2008 ini tepat satu tahun saya bergabung di Dojo Aikikenkyukai untuk berlatih aikido. Butuh waktu yang cukup lama untuk mulai menimbulkan keyakinan bahwa aikido memang sebuah pilihan yang tepat. Berawal dari sebuah percobaan dan ke ingin tahuan, kini aikido telah menjadi sebuah bagian yang memang sulit dipisahkan dari keseharian. Thanks to all senpai yang telah bersedia mengajarkan dan melatih dengan sabar hingga saat ini.
Setelah banyak mengetahu manfaat dari aikido, rasanya nggak enak jika disimpan sendiri, akhirnya saya putuskan untuk menulis sebuah blog yang akan membahas perjalanan dan catatan harian saya selama belajar dan berkembang bersama aikido.